Showing posts with label Yahukimo. Show all posts
Showing posts with label Yahukimo. Show all posts

Sunday, November 19, 2017

Melawan Angin, Mendahului Hujan, Menikmati Kasih

18 November 2017, jarak tempuh bersepeda terjauh selama tiga tahun tinggal di Wamena dan dua puluh enam tahun hidup di dunia.  Wamena kota sampai Kali Yago di Sogokmo, total waktu perjalanan pulang pergi lima jam dengan sepeda balap dengan jarak 41 KM.  Aku bangga!

Tiga tahun lalu hanya sanggup bersepeda setengah dari jarak tersebut dengan total waktu yang sama.  Bangga sama diri sendiri, karena ada peningkatan dari kapasitas diri yang sebelumnya. 

Saya ini memang selalu menghindari membandingkan diri dengan orang lain, tidak bakalan ada kata puas kalau terus membandingkan diri dengan orang lain, karena selalu akan ada yang di atas saya.  Saya rasa pun tidak baik buat diri saya sendiri, jadi lebih baik saya selalu membandingkan diri dengan diri saya yang sebelumnya, itu cara saya mengukur diri apakah menjadi lebih baik atau lebih buruk.  Saya rasa itu takaran yang lebih baik dibanding mengukur dengan keberhasilan orang lain, yang ada malah melupakan rasa bersyukur untuk apa yang dipercayakan ke kita saat ini. 

Saya yakin, masih banyak orang – orang yang bisa bersepeda dengan jarak tempuh lebih jauh dan waktu tempuh yang lebih cepat.  Tapi apalah gunanya itu, karena saya bersepeda bukan untuk bertanding dengan orang lain, saya bertanding dengan diri saya sendiri sembari menikmati proses mengayuh, selama mengayuhnya tetap di jalan Tuhan.  Bertanding dengan diri sendiri karena harus memotivasi diri untuk tetap bergerak walau kelelahan, bosan, malas, bahkan merasa sendiri.

Tantangan yang terberat bukan karena harus mengayuh sepeda sejauh 41 KM, tapi ketika harus mengayuh dan kadang kala menuntun sepeda di tanjakan di saat harus melawan arah angin.  Ketika harus tetap bergerak di saat angin bergerak berlawanan arah dengan kami, di situ saya merasa mulai kelelahan dan bosan. 
Sama seperti rutinitas yang biasa dijalani, kita merasa lelah karena harus tetap berdiri teguh di saat orang – orang sekitar tidak satu irama langkah dengan kita.  Selama kita berdiri teguh untuk hal yang benar, berdirilah dan jangan goyah, walau hanya sendiri.  Saya bukan ikan mati yang hanya pergi mengikuti arus air, saya lebih memilih jadi ikan salmon yang hidup melawan arus air walau lelah dan berat, karena dengan begitu menandakan saya hidup dan tetap bergerak. 

Kemarin tujuan kami adalah untuk makan siang di kali Yago yang bertemu dengan kali Baliem, untuk ke sana kami harus menuntun dan mengangkat sepeda selama empat puluh menit di jalan setapak dan berbatu, menyebrangi aliran air kecil, bahkan naik jembatan besar berwarna kuning.  Kaki beberapa kali terantuk pedal karena jalanan yang sempit untuk mendorong sepeda, belum lagi tangan kanan kerja keras menahan sepeda di jalan turunan berbatu.  Rasa puas tentu saja ada ketika berhasil membawa sepeda ke tempat tujuan. 

Memang harus berjuang keras untuk mencapai tujuan, sakit di sana sini ketika berjuang juga hal yang biasa, karena sakit itu yang membentuk untuk lebih kuat.  Kaki lebam karena bersepeda lebih baik daripada luka batin gagal lagi dapat beasiswa, lukanya lebih dalam. 

Akhirnya jam 2.40 kami pun bergerak untuk kembali pulang, kali ini harus mengangkat sepeda di tanjakan berbatu, lebih lelah tapi lebih mudah dilakukan.  Mungkin karena air sudah mulai turun ke atas kepala jadi kami berusaha bergerak lebih cepat walau kelelahan. 

Seperti biasa, perjalanan pulang akan lebih terasa cepat, apalagi lebih banyak turunan karena kami sudah menanjak ketika datang tadi.  Hanya sesekali mengayuh, selanjutnya lebih banyak dibantu dengan gaya gravitasi bumi untuk bergerak dengan cepat.  Perjalanan pulang lebih banyak menikmati angin yang kali ini bergerak searah dengan kami, sangat membantu untuk bisa mendahului hujan. 

Setelah tanah longsor, barulah kami mulai mengayuh dengan sepeda dengan konsisten.  Sebenarnya kemarin ada yang menawarkan untuk ikut mobilnya kembali ke kota, tapi dengan percaya dirinya saya menolak tawaran tanpa bertanya apakah teman saya masih merasa sanggup seperti saya atau tidak. 

Tujuan kami memang bersepeda, menikmati tubuh bergerak, merasakan angin, melihat lebih dekat keindahan yang ada, menikmati kasih.  Itulah kenapa saya senang bersepeda. 

Tentu saja saya bersepeda tidak sendiri, ada satu perempuan Yali yang sempat janji mengajak saya bersepeda tapi tidak pernah terealisasi.  Sintike Bahabol, walau hanya berdua tapi saya merasa berani bersepeda ke Sogokmo karena ada dia sebagai tameng saya.  Two is better than one, isn’t it?

Sama seperti Tuhan Yesus, tameng kehidupan saya.  Selama ada Tuhan Yesus, saya akan berdiri teguh melawan arus, walau harus disudutkan, dijebak, diremehkan, yaudahlah, buat Tuhan Yesus saya berharga kok. 

Ketika kita menyadari diri kita berharga, kita akan belajar mengasihi diri sendiri.  Ketika kita menyadari orang lain juga berharga di mata Tuhan, kita akan belajar mengasihi orang lain sama seperti kita mengasihi diri sendiri.  Ketika kita berhasil mengasihi sesama, itulah cara kita mengasihi Tuhan yang tidak terlihat dengan mata, tetapi selalu melihat kita berharga di mataNya. 

Monday, June 5, 2017

Sepenggal Catatan di Kilise

Desa Kilise, Kurima, Kabupaten Yahukimo, Papua, Indonesia. 

tempat penginapan di Desa Kilise
Desa Kilise ini tempat di mana ada penginapan berbentuk honai yang dikelola oleh masyarakat sekitar kampung itu.  Perjalanan ke desa Kilise sebenarnya tidak terlalu jauh (relative sih), kemarin lama waktu perjalanan adalah sekitar 2,5 jam jalan kaki dari kali Yetni.  Dari kota Wamena bisa menggunakan taksi untuk sampai ke titik awal trekking (kali Yetni).  Kemarin kami diantar sampai kali Yetni lewat Hitigima karena jembatan di jalur biasa masih terputus.  Menyebrang kali Yetni juga bukan perkara mudah sebenarnya karena arus air yang cukup deras, lebih baik pakai sandal gunung kalau gamau ribet sepatu basah sedari awal. 

Cukup melelahkan memang di perjalanan menuju ke Kilise, karena sejak awal sudah langsung bertemu dengan medan tanjakan berbatu – batu.  Walau masyarakat sekitar selalu bilang, “Kilise dekat saja, di sana.  Dekat saja.” Sebagai informasi, dekatnya orang Papua itu ga sama dengan dekatnya orang orang yang ga biasa naik gunung.  Saya sih udah pengalaman, jadi ga kemakan PHP “dekat” nya mama mama yang kasih semangat.  Seingat saya sih ada tiga sampai empat tanjakan selama perjalanan menuju Kilise.  Dua tanjakan pertama adalah dua yang terberat, jadi itu yang buat lelah duluan di awal.  Tapi setelahnya banyak jalan datar yang kasih kesempatan untuk simpan nafas dan tenaga. 


Patokan desa Kilise adalah gereja beratapkan seng alumunium, kalau sudah sampai di gereja berarti kalian tinggal selangkah lagi sampai di Desa Kilise.  Begitu melihat penginapannya, pastilah seperti biasa lelah mendaki langsung hilang, jadi terus berjuang aja karena lelah mendaki cuma sementara dan semu begitu sudah sampai di tempat tujuan. 

Ada lima honai yang bisa digunakan, satu orang dikenakan biaya Rp. 120.000 dan satu honai bisa diisi 4 - 5 orang.  Di dalam honai memang disediakan kasur tipis dan juga selimut, tapi saran saya lebih baik bawa sleeping bag sendiri demi kenyamanan tidur.  Lingkungan penginapannya benar benar nyaman sebenarnya, cuma kebersihan kamar aja yang masih kurang diperhatikan oleh masyarakat lokal di sana.  Kasur dan selimut sepertinya tidak pernah dicuci, kamar juga tidak disapu.  Jangan heran kalau di dinding honai banyak laba – laba dengan ukuran cukup besar.  Jangan lupa bawa senter, karena di dalam honai tidak ada lampu.  Lebih tepatnya tidak ada listrik di desa ini. 

Di sana juga tersedia dua kamar mandi umum, walau airnya tidak terlalu jernih.  Dapur dan ruang makan juga tersedia, tapi ya kontekstual. Jangan berharap dapur dan tempat makan yang sehari hari kita temui di kota.  Jangan lupa bawa bahan makanan untuk diolah, ada dapur bukan berarti mereka juga sediakan bahan makanan untuk diolah.  Masyarakat lokal juga sediakan kayu bakar dengan harga Rp. 20.000 per ikat.  Ada juga mata air yang bisa digunakan untuk makan dan minum, jadi ga perlu khawatir soal itu. 

Untuk keseluruhan, saya takjub dengan masyarakat lokal yang mengelola tempat ini.  Memang masih ada kekurangan, tapi kalau kita lihat dari lokasi desa Kilise yang tidak dekat dari kota, tentu saja adanya tempat ini sangat menyenangkan.  Di sekitar halaman akan banyak masyarakat berkumpul melihat kegiatan yang pengunjung lakukan, sambil menjual kreasi tangan seperti gelang, koteka, dan lain lain. 

Seorang Bapa yang masih berkoteka datang di malam hari, membawakan keladi buah merah untuk kami yang sedang berkumpul di bawah pohon sambil minum kopi.  Ketika ditawari rokok, Bapa ini menolak, katanya sudah berhenti merokok dan juga minum kopi.  Sehingga hanya bisa minum teh atau susu panas.  Senang banget dengar jawaban Beliau.  Belum selesai di situ, besok paginya ketika teman teman membagi permen ke anak anak sebelum kembali pulang ke kota, Bapak ini terlihat memarahi anak anak dengan bahasa lokal.  Lalu setelah itu Bapak itu menjelaskan kepada kami, Beliau marah kepada anak anak karena mereka membuang sampah permen sembarangan.  Rasanya bangga banget sama Bapak satu ini! Juga ada satu adik laki laki bernama Lukas, yang paling rajin menemani kami dan membantu memasak.  Anak yang betah sekali sampai malam mendengar cerita tentang kehidupan di luar sana dan pagi pagi sudah bangun untuk kembali mencari cerita lainnya. 

Walau tidak punya rundown acara selama di sana, tetap aja kebosanan tidak datang menjenguk.  Hanya asik bercerita sejak siang sampai tengah malam, tapi tetap saja setiap detik sangat dinikmati.  Lucunya ternyata masih dapat sinyal di sana, walau hanya sebatas telfon dan sms.  Bisa juga dapat sinyal internet, tapi harus jalan dulu ke gereja sekitar 5 menit dari tempat penginapan.  Di pagi hari kita bisa merasakan berada di atas kabut pagi yang semakin siang akan semakin tinggi dan tebal.
 

Di ketinggian 1800 mdpl pun banyak cerita yang bisa didapat dan dibagikan.  Esok harinya, begitu kembali sampai di kali Yetni dan melihat teman dari kota sudah ada di sana untuk menjemput, rasanya seperti melihat es teh manis yang siap untuk diminum.  Wamena pun rasanya sudah sangat kota bagi kami, walau biasanya merasa Wamena sangat desa dibanding kota kota besar tempat kami dibesarkan.  Tantangan hidup untuk bersyukur itu hanya masalah ‘perbandingan’.  Ketika kita membandingkan sesuatu dengan yang lebih besar membuat susah untuk bersyukur.  Tapi kalau kita lakukan sebaliknya, rasanya mudah sekali untuk bersyukur.  Ketika makan pop mie di kota tidak mendapatkan kenikmatan apa apa, akan menjadi sebuah kenikmatan yang sesungguhnya menyantap pop mie di tempat terpencil di suatu sudut dunia yang jarang tersentuh oleh kenikmatan dunia lainnya.  

Tahun lalu saya masih bingung dengan orang orang yang lahir dan besar di Wamena, sudah pernah merasakan hidup di luar Wamena tapi masih saja memutuskan hidup di Wamena.  Tapi kali ini saya memahaminya, bahkan saya bingung dengan orang orang yang ingin segera keluar dari Wamena.  Sudah hampir tiga tahun di tempat ini dan cukup banyak mengunjungi tempat tempat indah di tempat ini, rasanya masih kurang dan ingin perpanjang periode waktu hidup di tempat ini.  Masih banyak yang ingin dilakukan dan tempat yang ingin dikunjungi.  Bahkan minggu ini saya semakin merasa, “ga kebayang kalau harus hidup di luar Wamena, I wish I could stay here forever.” (kemudian siap dimarahin mama dan disms tiap hari). 

Seandainya saya protozoa yang bisa membelah diri dan memperpanjang waktu di tempat ini semudah memperpanjang masa aktif nomor handphone, pasti hidup akan lebih mudah untuk melangkah.  Sayangnya hidup ga semudah itu dan kalau semudah itu, pasti hidup ga akan seberarti hari ini.  Karena hidup penuh perjuangan, makanya hidup sangat berarti dan sayang banget untuk disia-siakan, bahkan disesali. 

Kalau bisa dibilang, saat ini saya ada di titik terus bersyukur untuk setiap perjalanan dalam hidup saya.  Untuk setiap pengalaman hidup yang saya miliki sampai hari ini, untuk setiap orang yang hadir di hidup saya, untuk setiap kekecewaan dan sukacita yang membentuk diri saya, saya bersyukur.  Saya harap akan konsisten tetap bersyukur, walau di depan nanti kembali bertemu kekecewaan, penyesalan, sakit hati, semoga saya tetap bersyukur dan mampu menikmati setiap proses kehidupan selanjutnya.  Seperti sebuah harta karun, pengalaman di tempat ini dan perjalanan hidup sampai hari ini, gamau saya tukar dengan apapun.

Impian saya saat ini adalah untuk tetap bertahan di kota ini, dan saya sedang memperjuangkan hal itu.  Ketika kota besar bukan lagi tujuan untuk menetap, melainkan tempat berlibur sesaat.  Kota terpencil telah mencuri hati untuk menetap, bukan sesuatu yang bersifat sementara saja.  Jati diri sebagai seorang INFP sangat membantu dalam menikmati hidup di tempat terpencil.  Di kala orang orang semakin mengeluh, saya malah semakin bersyukur bisa hidup di tempat ini.  Melihat setiap hal dari sudut yang berbeda, lebih sering menyenangkan.  Karena bumi kita ini bulat, ga bisa kalau hanya melihat dari satu sudut saja.  Akan banyak hal manis terlewat kalau hanya berdiri di satu sudut yang sama, atau bahkan terus berada di sudut tempat semua orang melihat bumi ini. 

Kita masing masing punya kaki untuk melangkah, otak untuk berpikir, hati untuk merasa dan mata untuk menemukan sudut terindah yang membuat senyuman di bibir kita gamau pergi.  



Thursday, June 2, 2016

Memperlebar Batas Diri ke Hitugi

Jadi ingat, tahun 2011 menemani teman – teman dari Jepang mengunjungi satu perkampungan di daerah dago pojok saja saya sudah nyaris tidak sanggup menyelesaikan anak tangga yang ada, tapi sekarang setelah hampir 5 tahun berlalu ternyata kaki ini telah sanggup berjalan naik turun gunung dan lembah selama 5 jam sekali perjalanan untuk mencapai sebuah kampung bernama Hitugi yang terletak di Kabupaten Yahukimo, Papua. 


Setelah menemani teman – teman dari Jepang, saya menyadari tubuh ini kurang kuat dalam hal menanjak, sehingga saya sedikit membenci ketika diajak naik gunung oleh teman – teman, karena saya tahu saya lemah ketika harus menghadapi tanjakan dengan kedua kaki ini. 

Di tahun 2014 saya beranikan diri pergi ke Kawah Ijen, dengan alasan ingin melihat ‘blue fire’ satu – satunya di dunia itu.  Kembali saya akui saya memang lemah menghadapi tanjakan, hanya berapa langkah kemudian minta istirahat, terus berulang seperti itu sampai akhirnya berhasil tiba di bibir kawah.  Tidak sampai di bibir kawah saja, saya pun ikut turun mendekat ke danau sulfur saking penasarannya ingin melihat blue fire di jarak paling aman yang terdekat.  Buat saya itu perjalanan tidak gampang, medan yang curam, udara yang sangat dingin, persiapan yang kurang matang.  Tidak pernah menyesal untuk hal itu dan sahabat perjalanan menemukan karakter diri saya yang tersembunyi,“rasa penasaranmu lebih besar daripada kelemahanmu, kamu memang lambat tapi rasa penasaranmu yang besar membuatmu berhasil menyelesaikan Kawah Ijen.”

Setelah dari Kawah Ijen, saya dan sahabat berjalan kaki dari Hutan Raya Dago sampai ke Tebing Keraton, mungkin sekitar 1 – 2 jam perjalanan sekali jalan.  Setelah itu, 3 minggu pertama di Wamena, saya ikut trekking bersama teman – teman kantor ke bukit Veraweh.  Perjalanan sekitar 3 jam sampai di atas karena saya sangat lambat dalam setiap tanjakan dengan tubuh yang masih beradaptasi dengan udara di Wamena, sangat mudah kehabisan tenaga dan nafas.  Sembilan bulan terakhir tiga kali ke Habema dan selalu turun sampai danau, memang perjalanan tidak begitu melelahkan, tapi cukup untuk melatih kaki dan nafas yang manja ini. 

Kaki ini juga pernah bersepeda dari Wamena kota sampai Jembatan Kuning di Sogokmo, perjalanan 4 jam pulang pergi, kehabisan air, kepanasan karena berangkat terlalu siang, bekal makan sudah habis, tapi tetap berhasil kembali ke kota.  Sempat juga mengayuh sepeda sampai ke gunung susu walau pulang berjalan kaki mendorong sepeda karena ban sepeda bocor dan baru menemukan tambal ban di kota. 

Perjalanan ke Hitugi kemarin adalah perjalanan paling jauh sampai saat ini.  Saya sendiri masih belum percaya saya sanggup (mungkin lebih tepatnya ‘disanggupkan’).  Walau di dua tanjakan terakhir ada adik laki – laki yang sangat berbaik hati membawakan ransel saya.  Di tanjakan terakhir tenaga saya hanya sanggup berjalan 10 cm per menit kemudian istirahat.  Perjalanan ini memang cukup lucu, saya dijanjikan perjalanan hanya selama 3 jam trekking, pada kenyataannya saya bertanya 3 kali “berapa lama lagi?” dan orang – orang yang menjawab selalu memberi jawaban yang sama, “2 jam lagi”.  Kalau ditotal berarti sudah 6 jam kami berjalan. 

after reaching the first uphill: still 4 hours more trekking to Hitugi
taken by : Tarsi


Kampung Hitugi, Kabupaten Yahukimo

Perjalanan pulang esok harinya lebih mudah, sedikit tanjakan dan lebih banyak turunan.  Pemandangan pun lebih bisa dinikmati, mungkin karena beban sudah berkurang.  Sebelum sampai di mobil harus menyeberang Kali Yetni, satu tantangan terakhir sebelum semua berakhir.  Kalau tidak ada tangan yang terulur, mungkin saya sudah baku ikut dengan air Kali Yetni. 


Sampai di rumah, mencoba menapak tilas perjalanan lewat gambar – gambar yang berhasil saya ambil dalam perjalanan, saya menyadari satu hal, Pencipta kita adalah Pribadi yang sangat mudah dikagumi.  Coretan tanganNya di dunia ini adalah sebuah keindahan yang membuat saya berpikir, “mau seperti apalagi indahNya Dia jika coretanNya saja seindah ini?”

“Apalah saya ini yang masih sering menyakiti Dia dengan sadar dan sengaja, tapi Dia tetap indah dan mengasihi dengan setia.”


Satu hal terakhir, masih sama seperti tulisan saya dalam perjalanan ke Veraweh :

Trekking itu seperti melakukan perjalanan hidup, yang penting bukan seberapa cepat sampai di tujuan, tapi tetap kembali melangkah dan mendorong diri sendiri untuk tidak menyerah.  Lawan dalam trekking adalah diri sendiri, sama juga seperti hidup.  Teruslah melangkah, jangan berhenti, ambil waktu untuk istirahat itu wajar, tapi mengambil keputusan untuk kembali melangkah adalah keputusan yang layak diambil, karena kita tidak tahu apa yang sedang menunggu kita di depan untuk tetap melangkah melawan kemalasan diri sendiri. 

Segala sesuatu yang indah, layak diperjuangkan.   Lebih baik kita berjuang untuk sesuatu yang indah walau kita belum tahu seberapa indahnya itu, daripada kita berhenti berjuang dan kembali berjalan mundur untuk melihat yang sudah pernah kita lihat. 

Downhill track
Ditambah dengan kata – kata pelengkap hasil perjalanan ke Hitugi :

Kaki ini telah dilatih sebelumnya tanpa saya sadari, berhasil menginjak Hitugi bukan sebuah hasil tanpa proses belaka.  Tanjakan seperti sebuah masalah dalam hidup yang sering membuat kita lemah, merasa tidak mampu, dan malas untuk melewatinya.  Padahal di ujung tanjakan ada sebuah pemandangan indah yang bisa kita nikmati jika kita mau tekun melangkah dan bersandar pada pengertianNya untuk menyadari hal yang tersembunyi itu.  Memang kita juga tidak tahu berapa lama jeda waktu untuk kembali bertemu dengan tanjakan selanjutnya, tapi selama kita menyadari Siapa yang selalu ada di samping kita untuk menemani dan memampukan, bukankah tanjakan menjadi lebih ringan untuk dihadapi?  Dan ketika kita melihat kebelakang, ternyata sudah banyak tanjakan yang sudah kita hadapi, kaki ini sudah terlatih menghadapi tanjakan selanjutnya (karakter kita sudah terlatih untuk menghadapi masalah selanjutnya).  Ketika kita tidak lagi berfokus terhadap 'masalah' yang ada, tapi fokus menyadari 'Siapa' yang ada bersama kita.  Bersyukur untuk proses, bersyukur untuk hasil. 

Bukan saya mampu, tapi saya dimampukan oleh Dia yang selalu setia dan bersedia menjadi kekuatan saya.  Bersyukur untuk Dia yang memampukan kita.

taken by : Tarsi
Cause I love capturing the perfect ones
"Leaving something that is not even worth to step into everything that is more than just worth enough"
song by  : Munthe - Pure