Sunday, November 19, 2017

Melawan Angin, Mendahului Hujan, Menikmati Kasih

18 November 2017, jarak tempuh bersepeda terjauh selama tiga tahun tinggal di Wamena dan dua puluh enam tahun hidup di dunia.  Wamena kota sampai Kali Yago di Sogokmo, total waktu perjalanan pulang pergi lima jam dengan sepeda balap dengan jarak 41 KM.  Aku bangga!

Tiga tahun lalu hanya sanggup bersepeda setengah dari jarak tersebut dengan total waktu yang sama.  Bangga sama diri sendiri, karena ada peningkatan dari kapasitas diri yang sebelumnya. 

Saya ini memang selalu menghindari membandingkan diri dengan orang lain, tidak bakalan ada kata puas kalau terus membandingkan diri dengan orang lain, karena selalu akan ada yang di atas saya.  Saya rasa pun tidak baik buat diri saya sendiri, jadi lebih baik saya selalu membandingkan diri dengan diri saya yang sebelumnya, itu cara saya mengukur diri apakah menjadi lebih baik atau lebih buruk.  Saya rasa itu takaran yang lebih baik dibanding mengukur dengan keberhasilan orang lain, yang ada malah melupakan rasa bersyukur untuk apa yang dipercayakan ke kita saat ini. 

Saya yakin, masih banyak orang – orang yang bisa bersepeda dengan jarak tempuh lebih jauh dan waktu tempuh yang lebih cepat.  Tapi apalah gunanya itu, karena saya bersepeda bukan untuk bertanding dengan orang lain, saya bertanding dengan diri saya sendiri sembari menikmati proses mengayuh, selama mengayuhnya tetap di jalan Tuhan.  Bertanding dengan diri sendiri karena harus memotivasi diri untuk tetap bergerak walau kelelahan, bosan, malas, bahkan merasa sendiri.

Tantangan yang terberat bukan karena harus mengayuh sepeda sejauh 41 KM, tapi ketika harus mengayuh dan kadang kala menuntun sepeda di tanjakan di saat harus melawan arah angin.  Ketika harus tetap bergerak di saat angin bergerak berlawanan arah dengan kami, di situ saya merasa mulai kelelahan dan bosan. 
Sama seperti rutinitas yang biasa dijalani, kita merasa lelah karena harus tetap berdiri teguh di saat orang – orang sekitar tidak satu irama langkah dengan kita.  Selama kita berdiri teguh untuk hal yang benar, berdirilah dan jangan goyah, walau hanya sendiri.  Saya bukan ikan mati yang hanya pergi mengikuti arus air, saya lebih memilih jadi ikan salmon yang hidup melawan arus air walau lelah dan berat, karena dengan begitu menandakan saya hidup dan tetap bergerak. 

Kemarin tujuan kami adalah untuk makan siang di kali Yago yang bertemu dengan kali Baliem, untuk ke sana kami harus menuntun dan mengangkat sepeda selama empat puluh menit di jalan setapak dan berbatu, menyebrangi aliran air kecil, bahkan naik jembatan besar berwarna kuning.  Kaki beberapa kali terantuk pedal karena jalanan yang sempit untuk mendorong sepeda, belum lagi tangan kanan kerja keras menahan sepeda di jalan turunan berbatu.  Rasa puas tentu saja ada ketika berhasil membawa sepeda ke tempat tujuan. 

Memang harus berjuang keras untuk mencapai tujuan, sakit di sana sini ketika berjuang juga hal yang biasa, karena sakit itu yang membentuk untuk lebih kuat.  Kaki lebam karena bersepeda lebih baik daripada luka batin gagal lagi dapat beasiswa, lukanya lebih dalam. 

Akhirnya jam 2.40 kami pun bergerak untuk kembali pulang, kali ini harus mengangkat sepeda di tanjakan berbatu, lebih lelah tapi lebih mudah dilakukan.  Mungkin karena air sudah mulai turun ke atas kepala jadi kami berusaha bergerak lebih cepat walau kelelahan. 

Seperti biasa, perjalanan pulang akan lebih terasa cepat, apalagi lebih banyak turunan karena kami sudah menanjak ketika datang tadi.  Hanya sesekali mengayuh, selanjutnya lebih banyak dibantu dengan gaya gravitasi bumi untuk bergerak dengan cepat.  Perjalanan pulang lebih banyak menikmati angin yang kali ini bergerak searah dengan kami, sangat membantu untuk bisa mendahului hujan. 

Setelah tanah longsor, barulah kami mulai mengayuh dengan sepeda dengan konsisten.  Sebenarnya kemarin ada yang menawarkan untuk ikut mobilnya kembali ke kota, tapi dengan percaya dirinya saya menolak tawaran tanpa bertanya apakah teman saya masih merasa sanggup seperti saya atau tidak. 

Tujuan kami memang bersepeda, menikmati tubuh bergerak, merasakan angin, melihat lebih dekat keindahan yang ada, menikmati kasih.  Itulah kenapa saya senang bersepeda. 

Tentu saja saya bersepeda tidak sendiri, ada satu perempuan Yali yang sempat janji mengajak saya bersepeda tapi tidak pernah terealisasi.  Sintike Bahabol, walau hanya berdua tapi saya merasa berani bersepeda ke Sogokmo karena ada dia sebagai tameng saya.  Two is better than one, isn’t it?

Sama seperti Tuhan Yesus, tameng kehidupan saya.  Selama ada Tuhan Yesus, saya akan berdiri teguh melawan arus, walau harus disudutkan, dijebak, diremehkan, yaudahlah, buat Tuhan Yesus saya berharga kok. 

Ketika kita menyadari diri kita berharga, kita akan belajar mengasihi diri sendiri.  Ketika kita menyadari orang lain juga berharga di mata Tuhan, kita akan belajar mengasihi orang lain sama seperti kita mengasihi diri sendiri.  Ketika kita berhasil mengasihi sesama, itulah cara kita mengasihi Tuhan yang tidak terlihat dengan mata, tetapi selalu melihat kita berharga di mataNya. 

Monday, June 5, 2017

Sepenggal Catatan di Kilise

Desa Kilise, Kurima, Kabupaten Yahukimo, Papua, Indonesia. 

tempat penginapan di Desa Kilise
Desa Kilise ini tempat di mana ada penginapan berbentuk honai yang dikelola oleh masyarakat sekitar kampung itu.  Perjalanan ke desa Kilise sebenarnya tidak terlalu jauh (relative sih), kemarin lama waktu perjalanan adalah sekitar 2,5 jam jalan kaki dari kali Yetni.  Dari kota Wamena bisa menggunakan taksi untuk sampai ke titik awal trekking (kali Yetni).  Kemarin kami diantar sampai kali Yetni lewat Hitigima karena jembatan di jalur biasa masih terputus.  Menyebrang kali Yetni juga bukan perkara mudah sebenarnya karena arus air yang cukup deras, lebih baik pakai sandal gunung kalau gamau ribet sepatu basah sedari awal. 

Cukup melelahkan memang di perjalanan menuju ke Kilise, karena sejak awal sudah langsung bertemu dengan medan tanjakan berbatu – batu.  Walau masyarakat sekitar selalu bilang, “Kilise dekat saja, di sana.  Dekat saja.” Sebagai informasi, dekatnya orang Papua itu ga sama dengan dekatnya orang orang yang ga biasa naik gunung.  Saya sih udah pengalaman, jadi ga kemakan PHP “dekat” nya mama mama yang kasih semangat.  Seingat saya sih ada tiga sampai empat tanjakan selama perjalanan menuju Kilise.  Dua tanjakan pertama adalah dua yang terberat, jadi itu yang buat lelah duluan di awal.  Tapi setelahnya banyak jalan datar yang kasih kesempatan untuk simpan nafas dan tenaga. 


Patokan desa Kilise adalah gereja beratapkan seng alumunium, kalau sudah sampai di gereja berarti kalian tinggal selangkah lagi sampai di Desa Kilise.  Begitu melihat penginapannya, pastilah seperti biasa lelah mendaki langsung hilang, jadi terus berjuang aja karena lelah mendaki cuma sementara dan semu begitu sudah sampai di tempat tujuan. 

Ada lima honai yang bisa digunakan, satu orang dikenakan biaya Rp. 120.000 dan satu honai bisa diisi 4 - 5 orang.  Di dalam honai memang disediakan kasur tipis dan juga selimut, tapi saran saya lebih baik bawa sleeping bag sendiri demi kenyamanan tidur.  Lingkungan penginapannya benar benar nyaman sebenarnya, cuma kebersihan kamar aja yang masih kurang diperhatikan oleh masyarakat lokal di sana.  Kasur dan selimut sepertinya tidak pernah dicuci, kamar juga tidak disapu.  Jangan heran kalau di dinding honai banyak laba – laba dengan ukuran cukup besar.  Jangan lupa bawa senter, karena di dalam honai tidak ada lampu.  Lebih tepatnya tidak ada listrik di desa ini. 

Di sana juga tersedia dua kamar mandi umum, walau airnya tidak terlalu jernih.  Dapur dan ruang makan juga tersedia, tapi ya kontekstual. Jangan berharap dapur dan tempat makan yang sehari hari kita temui di kota.  Jangan lupa bawa bahan makanan untuk diolah, ada dapur bukan berarti mereka juga sediakan bahan makanan untuk diolah.  Masyarakat lokal juga sediakan kayu bakar dengan harga Rp. 20.000 per ikat.  Ada juga mata air yang bisa digunakan untuk makan dan minum, jadi ga perlu khawatir soal itu. 

Untuk keseluruhan, saya takjub dengan masyarakat lokal yang mengelola tempat ini.  Memang masih ada kekurangan, tapi kalau kita lihat dari lokasi desa Kilise yang tidak dekat dari kota, tentu saja adanya tempat ini sangat menyenangkan.  Di sekitar halaman akan banyak masyarakat berkumpul melihat kegiatan yang pengunjung lakukan, sambil menjual kreasi tangan seperti gelang, koteka, dan lain lain. 

Seorang Bapa yang masih berkoteka datang di malam hari, membawakan keladi buah merah untuk kami yang sedang berkumpul di bawah pohon sambil minum kopi.  Ketika ditawari rokok, Bapa ini menolak, katanya sudah berhenti merokok dan juga minum kopi.  Sehingga hanya bisa minum teh atau susu panas.  Senang banget dengar jawaban Beliau.  Belum selesai di situ, besok paginya ketika teman teman membagi permen ke anak anak sebelum kembali pulang ke kota, Bapak ini terlihat memarahi anak anak dengan bahasa lokal.  Lalu setelah itu Bapak itu menjelaskan kepada kami, Beliau marah kepada anak anak karena mereka membuang sampah permen sembarangan.  Rasanya bangga banget sama Bapak satu ini! Juga ada satu adik laki laki bernama Lukas, yang paling rajin menemani kami dan membantu memasak.  Anak yang betah sekali sampai malam mendengar cerita tentang kehidupan di luar sana dan pagi pagi sudah bangun untuk kembali mencari cerita lainnya. 

Walau tidak punya rundown acara selama di sana, tetap aja kebosanan tidak datang menjenguk.  Hanya asik bercerita sejak siang sampai tengah malam, tapi tetap saja setiap detik sangat dinikmati.  Lucunya ternyata masih dapat sinyal di sana, walau hanya sebatas telfon dan sms.  Bisa juga dapat sinyal internet, tapi harus jalan dulu ke gereja sekitar 5 menit dari tempat penginapan.  Di pagi hari kita bisa merasakan berada di atas kabut pagi yang semakin siang akan semakin tinggi dan tebal.
 

Di ketinggian 1800 mdpl pun banyak cerita yang bisa didapat dan dibagikan.  Esok harinya, begitu kembali sampai di kali Yetni dan melihat teman dari kota sudah ada di sana untuk menjemput, rasanya seperti melihat es teh manis yang siap untuk diminum.  Wamena pun rasanya sudah sangat kota bagi kami, walau biasanya merasa Wamena sangat desa dibanding kota kota besar tempat kami dibesarkan.  Tantangan hidup untuk bersyukur itu hanya masalah ‘perbandingan’.  Ketika kita membandingkan sesuatu dengan yang lebih besar membuat susah untuk bersyukur.  Tapi kalau kita lakukan sebaliknya, rasanya mudah sekali untuk bersyukur.  Ketika makan pop mie di kota tidak mendapatkan kenikmatan apa apa, akan menjadi sebuah kenikmatan yang sesungguhnya menyantap pop mie di tempat terpencil di suatu sudut dunia yang jarang tersentuh oleh kenikmatan dunia lainnya.  

Tahun lalu saya masih bingung dengan orang orang yang lahir dan besar di Wamena, sudah pernah merasakan hidup di luar Wamena tapi masih saja memutuskan hidup di Wamena.  Tapi kali ini saya memahaminya, bahkan saya bingung dengan orang orang yang ingin segera keluar dari Wamena.  Sudah hampir tiga tahun di tempat ini dan cukup banyak mengunjungi tempat tempat indah di tempat ini, rasanya masih kurang dan ingin perpanjang periode waktu hidup di tempat ini.  Masih banyak yang ingin dilakukan dan tempat yang ingin dikunjungi.  Bahkan minggu ini saya semakin merasa, “ga kebayang kalau harus hidup di luar Wamena, I wish I could stay here forever.” (kemudian siap dimarahin mama dan disms tiap hari). 

Seandainya saya protozoa yang bisa membelah diri dan memperpanjang waktu di tempat ini semudah memperpanjang masa aktif nomor handphone, pasti hidup akan lebih mudah untuk melangkah.  Sayangnya hidup ga semudah itu dan kalau semudah itu, pasti hidup ga akan seberarti hari ini.  Karena hidup penuh perjuangan, makanya hidup sangat berarti dan sayang banget untuk disia-siakan, bahkan disesali. 

Kalau bisa dibilang, saat ini saya ada di titik terus bersyukur untuk setiap perjalanan dalam hidup saya.  Untuk setiap pengalaman hidup yang saya miliki sampai hari ini, untuk setiap orang yang hadir di hidup saya, untuk setiap kekecewaan dan sukacita yang membentuk diri saya, saya bersyukur.  Saya harap akan konsisten tetap bersyukur, walau di depan nanti kembali bertemu kekecewaan, penyesalan, sakit hati, semoga saya tetap bersyukur dan mampu menikmati setiap proses kehidupan selanjutnya.  Seperti sebuah harta karun, pengalaman di tempat ini dan perjalanan hidup sampai hari ini, gamau saya tukar dengan apapun.

Impian saya saat ini adalah untuk tetap bertahan di kota ini, dan saya sedang memperjuangkan hal itu.  Ketika kota besar bukan lagi tujuan untuk menetap, melainkan tempat berlibur sesaat.  Kota terpencil telah mencuri hati untuk menetap, bukan sesuatu yang bersifat sementara saja.  Jati diri sebagai seorang INFP sangat membantu dalam menikmati hidup di tempat terpencil.  Di kala orang orang semakin mengeluh, saya malah semakin bersyukur bisa hidup di tempat ini.  Melihat setiap hal dari sudut yang berbeda, lebih sering menyenangkan.  Karena bumi kita ini bulat, ga bisa kalau hanya melihat dari satu sudut saja.  Akan banyak hal manis terlewat kalau hanya berdiri di satu sudut yang sama, atau bahkan terus berada di sudut tempat semua orang melihat bumi ini. 

Kita masing masing punya kaki untuk melangkah, otak untuk berpikir, hati untuk merasa dan mata untuk menemukan sudut terindah yang membuat senyuman di bibir kita gamau pergi.  



Monday, March 13, 2017

Menemukan Impian dan Temannya

Waktu kecil saya selalu bingung bila ditanya apa cita – cita saya.  Seringkali saya menjawab, “tidak tahu”.  Saya bukan salah satu anak yang menjawab ingin menjadi dokter ketika saya kecil. Ketika SMP pun saya sempat dibilang bermasalah karena saya tidak bisa menuliskan apa kekurangan dan kelebihan diri saya.  Lulus SMA, saya gagal masuk di jurusan teknik yang saya inginkan. Kegagalan itu membuat saya memilih dengan asal jurusan akuntansi.  Memilih dengan asal bukan berarti saya menjalaninya dengan asal juga, karena saya merasa setiap orang sanggup belajar apa saja jika ada kemauan dari diri sendiri, bukan berasal dari kesukaan diri sendiri.  Belajar sesuatu berdasarkan apa yang kita sukai membuat kita lebih mudah untuk mengerti, bukan berarti kita hanya bisa berhasil ketika kita memilih apa yang kita sukai.  Saya tidak mau membatasi diri saya hanya belajar hal hal yang saya sukai, kalau begitu saya juga akan membatasi kemampuan diri saya.  Selama kuliah, jujur sebenarnya saya pun masih bingung apa yang akan saya kerjakan setelah lulus nanti.  Saya hanya mengikuti arus waktu dan belajar apa yang harus dipelajari untuk mendapat nilai bagus dan IP yang bagus.  2 semester terakhir, saya terinspirasi untuk menjadi CIA, bukan yang di Amerika, tapi Certified Internal Auditor.  Tapi begitu lulus kuliah, inspirasi itu tenggelam begitu saja.  Saya justru lebih berambisi menjadi eksternal auditor, tapi gagal sebanyak 3 kali.  Pada akhirnya gelar sarjana ini membawa saya ke pegunungan Papua, tentunya masih di bidang keuangan ruang lingkup pekerjaan saya.  Lucunya pekerjaan yang saya ambil justru sedikit berfungsi internal audit pada akhirnya.

Kalau sekarang saya ditanya apa cita-cita saya, saya pun masih bingung.  Bukan karena masih tidak tahu, tapi karena memiliki banyak cita cita dan hal yang ingin saya lakukan selama hidup.  Semakin banyak bertemu cerita dan memiliki pengalaman, membuat saya mempunyai sederatan impian.  Jangan ditanya apa saja impian itu, karena dari satu impian mempunyai seribu teman bersamanya.  Dua tahun tinggal di Papua, tentu saja semakin menguak apa keinginan saya yang sebenarnya. Berkutat dengan keuangan menjadi sebuah kelelahan yang ingin ditinggalkan.

Once I read, "Don't ask kids what they want to be when they grow up.  Ask them what problems they want to solve.  This changes the conversation from do I want to work for to what do I need to learn in order to be able to do that." - Jaime Casap


Sebelum menanyakan hal itu kepada anak saya nanti, saya tanyakan hal itu kepada diri saya saat ini.  Apa masalah yang mau saya selesaikan adalah jawaban berkesinambungan untuk apa yang mau saya lakukan.  Pertanyaan itu sungguh membantu untuk mengetahui apa impian terdalam saya.  Memang saya pernah ingin menjadi news anchor seperti Marissa Anita, atau traveling journo seperti Marisckha Prudence, tapi lebih dalam lagi saya memiliki satu mimpi yang menjadi tujuan utama saya saat ini.  


Hidup itu adalah suatu proses pengenalan dan pembelajaran yang terus menerus, pengenalan akan Tuhan seumur hidup, mempelajari dunia setiap hari, belajar mengasihi sampai seringkali merasa lelah, tentunya juga mengenal diri sendiri dalam setiap langkah.  Tergantung diri kita, apakah kita peka untuk mempelajari hal hal itu atau tidak.  

Saya tidak malu ketika kecil pernah tidak punya mimpi, untuk apa malu kalau saya memang tidak punya bayangan sama sekali apa yang mau saya lakukan.  Toh memang setiap kita terus melakukan pencarian jati diri itu sampai akhirnya kita menemukannya.  Saya tidak akan marah ketika nanti anak saya menjawab tidak tahu tentang cita citanya kelak.  Saya akan berikan dia sederatan masalah yang terjadi untuk mengarahkan dia mengetahui apa yang ingin dia selesaikan nantinya.  

Saya percaya, saya bukan memilih impian, tapi saya menemukan impian saya.  Tidak berhenti di situ, saya juga akan melakukan impian saya.  Impian itu adalah melihat anak - anak ini pergi ke sekolah setiap hari, memiliki sekolah untuk pergi belajar, mempunyai guru yang setia mengajar, orang tua yang mendukung mereka untuk bersekolah, dan juga sistem pendidikan yang menolong mereka untuk memiliki kualitas pendidikan yang seharusnya mereka miliki dan dapatkan.  Keadilan sosial bagi mereka, itu visi hidup saya saat ini.  

Visi itu mengarahkan saya memiliki sederatan misi yang bisa berdampak positif bagi orang banyak.  Karena saat ini hidup bukan tentang berbagi kepada diri sendiri lagi, tapi berbagi kepada sesama.  Ketika gengsi hidup bukan lagi tentang apa saja yang kita bisa beli untuk diri sendiri, tapi tentang apa saja yang bisa dan sudah kita lakukan untuk orang banyak.  

Bersama anak - anak di Kampung Sumunikama
taken by : Sintike Bahabol

Tuesday, January 3, 2017

One Birthday Letter

Dear Pap,
Hey! Happy birthday, Papa!!! Haha how was the party there? Much better than here I guess…

Argh! So many things I want to tell you now, ahh! Do you realize, I have been living in Wamena for 2 years already? Haha. Cool huh? I went to Habema lake several times! Do you know this place? It’s the highest lake in Indonesia, yeaah I have to admit that Toba Lake is more famous, the one that make you proud being a Bataknese, but your daughter has been to the highest lake in Indonesia, you have to proud about that either. Haha. I walked to one village also, named Hitugi.  It’s in Yahukimo, I’m sure you never heard about these names, ahah.  I walked for 5 hours, nonstop climbing up, no trees, then I stayed one night in Hitugi before going home on the next day, by walking also.  It’s a beautiful village, no regret at all.  Worth to fight for.  I went to ‘batas batu’, a place in Nduga district, about 3 hours from Wamena, by car.  Um, I visited Bokondini, stayed there for one day.  No signal, no electricity, but you can definitely see milky way there.  The most beautiful phenomenon I’ve ever seen!! It’s effortless beautiful!  Now you’re realized that your daughter is cool huh? HAHA!

Beside that I’ve met many good people in 2016, mostly in Wamena.  I came there with had no one I knew, but now I already have many relatives there.  Everyone knows me there (haha no, I’m not that famous).  I thank God for them, obviously! So don’t worry about me being alone there, I’m not lonely, I have many friends to visit, to talk, to being crazy together like friends that I have in Bandung since I was 12, friends that always made me late to come home and made you angry about that, but in the end you always allowed me to go with them because you know them well and you believe us won’t do anything besides talking for hours in cafĂ© with a cup of coffee and one nasi goreng.

And I was a coordinator for Sunday school in Church last year, haha! Been grateful to know the children there, as you know I love children that much, not only because they are funny, but also because I love teasing children and making them crying haha… they did something great on our Christmas celebration, they sang a song and light the candle to everyone.  I’m very proud of them.  You have to watch the video, it’s touchy. 

I already get used to in Wamena.  Last month, I got someone with a long spear (a sharp stick) stopped me while I was on my way to work, asking for money.  I wasn’t afraid he would kill me, but I didn’t know what I have to do, I was confusing not afraid, after that I explained to him that I’m a teacher in the nearest school there, so he let me go.  Does it weird, doesn’t it?  Just don’t tell mom, she won’t let me go back to Wamena haha..

We moved into a new home, what a heartbreaking moment to leave our house, but mom is happier with the small house, that's the most important thing.  

Ah this holiday, I went to Ijen and Bromo with your lovely son.  He never been anywhere and mom never allows him to go far from her, so I took him with me on a short holiday.  And he’s been to Ijen Crater now, he saw blue fire there, climbed up for 2 hours then climbed down to see the blue fire, it was so foggy and dark there, a quite dangerous honestly, but I took care of him, hahah no worries.  He’s safe! I think he’s proud of himself also. Haha.  That’s good for him huh?

Anything else? Hem, some of my friends in Wamena said greetings to you.  Everytime they said greeting for you, I always answered, ‘ah that’s hard for me to say your greeting to my dad’, they would look so confused, and to clear their question mark on their forehead, I continued saying, “my dad already passed away, that’s why it’s hard for me to say your greetings for him, haha”, they would become more confusing than before, because I’m laughing after explaining the reason. 

I still have no boyfriend, hooray! And mom keeps asking me the question, when I will get married? And I will always be mad to her for asking me that –“

I’m not in hurry, Pap, I am focusing to get a scholarship now rather than get a spouse to be married with.  You know, your daughter, who just had her first boyfriend when she was turning 22.  Hopefully, I’ll get a scholarship this year, after that I’ll try to think about marriage, ok?

So many stories, right? Haha..

It’s been 4 years already we don’t celebrate your birthday together.  4 Christmases, 4 New Years.  It’s quite different without you, Pap.  No staying up all night on Christmas and New Year’s Eve, no ‘ketupat’, no ‘rendang’, no ‘mandok hatta’ haha.  Ah we change a lot without you here.  It’s sad of course, but do you know, I realized something.  You have a big role in this family.  You are the leader of this family (after God absolutely), you are the man.  That’s why it won’t be the same anymore, you leave this world with warmhearted memories to remember (at least for us).  You loved people around you and you are loved as well! Your kindness to other is not easy to forget.

Today, on your birthday, I want to say it out loud that I’m a proud daughter of you! No one is better than you to be my dad. And it’s still a heartbreaking to me to lose you, because you are one of lovely men that ever lived in this world, I’m so blessed to have you as my dad.

Happy birthday there, Pap!

Love,


Your daughter who always pretends be tough enough HAHA! 

Thursday, November 10, 2016

Officialy TWO Years

HEEE! Today I’ve officially been living in rural area for 2 years!!!

That’s an achievement for me as someone who had been growing up in several big cities before moving here.  I already wrote about how much I’ve been changed since I live here, I do many things that are out of my willingness before.  I use to eat fish! Not only eat but also learn to cook those fishes that used to be in my ‘dislike food’ list.  I am able to cook several recipes, willing to shower using unclear water, getting use to have no internet connections for weeks! Live without electricity for hours repeatedly, pay 3GB internet bills for 1 million rupiah, pay gasoline that is twice more expensive than normal price, daily buy frozen chicken from store when in Java no one buys ‘tiren’ (mati kemarin/died yesterday) chicken.  You can’t imagine how many times I miss the simple life that big cities offer me.  I can easily choose and order various foods with delicious taste and reliable price, a stable internet connection all day long, clear water to cook and shower, stores to repair every tool that is broken, coffee shops to hang out, stove that only have to turn on with a knob, public transportation that is available any time any place, what a simple life that I had been having but not realized before moving here. 

Do I regret? Yes, for being unthankful for that simple life.  But for experienced everything here? Oh absolutely I don’t have any regret for that.  It sounds more like I left a simple life to a simpler one.  It seems simpler because it feels like I’m going back to many years before where the high technology doesn’t appear yet.  So I have to go traditional market to buy groceries, I have to use traditional stove because there aren’t available gas to buy.  Sometimes I don’t know the update news out there because don’t have any internet connections (and it helps me so much to not judge anyone’s useless words that happen nowadays).  Instead of being busy share the news that is going on to make myself look smart in social media, I rather choose to keep being busy with my own life and what I have to do to reach my goals.  Limited access keep me to shut my mouth and hold my fingers to type from judging others.  Limited access for everything makes me willing to wake up early just to cook for my breakfast and lunch, buy grocery after working, plan what I want to cook for today, what I have to buy for making those menus, manage time to work, teach, play badminton, cook, study for getting the scholarship, socialize, and still have time for myself (this one is hard).  

24 hours a day doesn’t feel enough for my daily routine here.  So many things to do yet I want to have many time for myself either (introvert’s problem Haha!)

I can’t tell how many experiences that I have, been working in finance scope make me understand to do reconciliation bank when I felt it was so confusing in college, doing the actual audit is much better than reading all the theory and understand that.  Besides that, I know it’s exhausting to be a teacher and housewife.  It’s soooo hard to be a teacher! A lesson plan, huh, what a task.  I know it helps you so much, but … yaah don’t copy me, I’m a terrible teacher.  Luckily I am a private teacher, I can’t imagine if I have to manage a class every day.  Teachers are really heroes!  Last year, one of my students couldn’t read yet, so I focused to teach her in reading, it was hard, really hard for me.  I almost yelled at her sometimes because she couldn’t remember what I said in million times, but it really paid off one day when she started reading by herself.  It felt like finally found your sole-mate (I don’t find yet, but I think the feeling will be like that, sort of).  That ‘finally’ moment is so priceless! Can’t imagine my children’s moment, oh the imagination is already too far.  A housewife, yeaah I’m not married yet, but I am that close with my neighbor, a man next door.  To be healthier (not really) and minim the expense (this is the reason), we share the food cost together.  So we cook and buy grocery almost every day.  I cook at his house then we eat together, but you know men, they are not as sensitive as women.  They keep being busy with their own and sometimes don’t notice they only have to wash the dishes (okay, not all men), so many times I want to yell ‘Do I have to do all of this alone? I just ask you to wash the dishes, I already buy the grocery and cook, and can you just help me to wash those things? It helps me soooo much! I have my own things too to be done, not only serve you to have a food to be eaten.’  Yeah sorry, but they are words in my head when I see the dishes stay cool in their place for 3 days.  He’s not my husband and I’m not his wife either, so I just act calm then yell (a little bit) at him.  Sometimes he buys the groceries and washes the dishes too, and I’m so thankful when he is doing that.  All the chaos moments help me to wonder what a marriage life looks alike.  It’s not a happily ever after as a fairytale said (I already wrote about this one).  This habit lead me to understand why my mom was so mad when she came home and saw everything wasn’t changing at all since morning, the dishes, things in living room, dirty floor, and anything else.  She was already tired of working then she had to work again at home with no one noticed to help her. We won’t understand people’s reaction before we experience it by ourselves first.  I need to see these characters in choosing my spouse, I think.  Ah! I play badminton too here, yeah I’m not a good player though but I play it twice a week.  And I accidentally join photographer community, not in purpose honestly.  But it takes me to many beautiful places and know many good people, no regrets! 

I level up! I’m not comparing my life with others, I won’t be satisfied then.  I’m comparing with my own, am I better or worse? Am I upgrading or downgrading myself?  Yah, I think I know the answer, experiences that I explained above is the process that shapes who I am today.  I haven’t been wasting my time here; somehow we don’t realize we are on processing room until we finished to be processed.  We keep being processed until we die.  After finishing one stage, we move in to another room and are being processed again.  Like trekking a mountain, it’s always facing the uphill to reach the summit, and not only one summit, more like millions!  When we want to give up, look back and see how many uphill we have faced.  We get use to face the uphill, we’re already trained without noticing that.  I’m in processing room right now, we are!  But I don’t know where this room leads me and what process is happening.  Someday, I will notice that for sure.  I’m only sure that I’m being processed to be a better version of myself today, because HE is the one who is shaped me in processing room.  

Happy anniversary for me! HAHA :))

Sunday, September 4, 2016

Tentara Garam dan Terang dari Pegunungan Tengah

Minggu, 4 September 2016

Setahun lebih menjadi guru sekolah minggu di salah satu gereja di Wamena, masih saja belum berhasil menghapal semua nama adik adik sekolah minggu, 5 orang pun tidak.  Jadwal mengajar yang satu bulan sekali, kalau dihitung kurang lebih sudah 15 pertemuan mungkin.  Padahal saya dulu cukup percaya diri mengandalkan daya ingat saya dalam hal mengingat nama orang, tapi tidak lagi sesampainya di Wamena, atau bisa dibilang sejak menginjak Pulau Papua ini. 

Jujur saja, untuk saya yang nyaris 24 tahun tumbuh di kota besar dan hanya berkutat di Pulau Sumatera, Jawa, Bali kemudian memutuskan melangkah ke Pulau paling timur Indonesia yang keberagamannya sedikit berbeda dengan yang biasa saya temui, membuat otak saya bergumul dalam hal merekam wajah wajah baru di tempat ini. 

Anak anak yang hadir pun tidak hanya dari sekolah minggu saja, masih ada anak anak di sekolah tempat saya bekerja yang entah bagaimana bisa tahu nama saya walau saya bukan guru di sekolah tersebut.  Teriakan “Miss Gita”, “Ka Gita”, “Kaka pengasuh” yang sering ditemui ketika berjalan kaki atau pun bersepeda cukup membebani hati saya karena hanya bisa membalasnya dengan senyuman lebar dan ‘halo’ tanpa memanggil kembali nama nama wajah yang teriak tersebut. 

Hati ini sudah cukup lama terbeban dengan kemampuan terbatas otak saya yang terus bergumul dalam menyimpan dengan baik setiap wajah wajah baru dengan nama nama yang tidak terbiasa didengar telinga saya selama ini. 

Oleh sebab itu, setelah 8 bulan menjadi koordinator sekolah minggu (sehabis liburan panjang akhir tahun di Bandung, tiba tiba dikasih tahu hasil keputusan rapat jadi koordinator tanpa ditanya menyanggupi atau tidak) yang kerjaannya cuma mengajar sebulan sekali dan mengumpulkan uang persembahan sekolah minggu setiap minggunya, ini langkah pertama saya dalam berinovasi dan berkreasi, setidaknya ada satu gerakan yang dilakukan dikala menjadi koordinator.  Minggu ini saya memulai dan memutuskan untuk mendata anak anak sekolah minggu yang hadir.  Memang mereka terus berganti setiap minggunya, ada yang selalu datang, ada yang hanya sekali datang, ada yang timbul tenggelam seperti matahari, tapi setidaknya sejak minggu ini saya mulai untuk mendata setiap wajah baru agar otak terbantu dalam menghadapi pergumulannya. 

Setelah mengambil foto mereka satu per satu, saya menanyakan nama mereka yang nantinya akan dijadikan sebuah kartu tanda pengenal untuk mereka gunakan setiap minggunya, sehingga kaka pengasuh lainnya yang merasakan pergumulan yang sama pun dapat terbantu juga dalam mengingat nama mereka.  Mereka terlihat senang dan sedikit malu ketika sesi pengambilan gambar, untuk gaya masih cukup kaku, tapi untuk senyuman tidak usah diragukan lagi manisnya, gula pasir pun kalah manis. 

Tidak hanya nama, saya juga menanyakan tanggal lahir mereka, sayangnya dari 14 anak yang hadir Minggu ini, hanya 4 anak saja yang mengingat tanggal lahir mereka (bukan hal yang mengagetkan bagi saya yang hampir dua tahun tinggal di Wamena).  Ada satu jawaban yang unik ketika bertanya tanggal lahir mereka selain, “tidak tahu” ataupun “lupa”, saya mendapat jawaban, “itu kertas ada di ibu guru di sekolah, saya tidak tahu, mama ada kasih ke ibu guru di sekolah, kertas saya tinggal di sekolah, ibu guru simpan.”

Dibalik keluguan jawaban itu, ada kelegaan dalam hati, “anak ini pergi ke sekolah.”

Saya pun teringat dengan Pasukan Kasih yang biasa saya temui di Bandung, kali ini Tuhan membuat langkah kaki saya bertemu dengan Tentara Garam dan Terang dari Pegunungan Tengah.

Sebelumnya menyelam dengan Pasukan Kasih, kali ini mendaki dengan Tentara Garam dan Terang.   


1. Elam, 2. Ayai, 3. Otis Mabel,
4.      5. Panus, 6. Epias,
7. Aslan, 8. Desi, 9. Ani,
10. Valdo, 11. Jackson, 12. Eli,
13. Dison, 14.Brando, 15. Kros


Thursday, June 2, 2016

Memperlebar Batas Diri ke Hitugi

Jadi ingat, tahun 2011 menemani teman – teman dari Jepang mengunjungi satu perkampungan di daerah dago pojok saja saya sudah nyaris tidak sanggup menyelesaikan anak tangga yang ada, tapi sekarang setelah hampir 5 tahun berlalu ternyata kaki ini telah sanggup berjalan naik turun gunung dan lembah selama 5 jam sekali perjalanan untuk mencapai sebuah kampung bernama Hitugi yang terletak di Kabupaten Yahukimo, Papua. 


Setelah menemani teman – teman dari Jepang, saya menyadari tubuh ini kurang kuat dalam hal menanjak, sehingga saya sedikit membenci ketika diajak naik gunung oleh teman – teman, karena saya tahu saya lemah ketika harus menghadapi tanjakan dengan kedua kaki ini. 

Di tahun 2014 saya beranikan diri pergi ke Kawah Ijen, dengan alasan ingin melihat ‘blue fire’ satu – satunya di dunia itu.  Kembali saya akui saya memang lemah menghadapi tanjakan, hanya berapa langkah kemudian minta istirahat, terus berulang seperti itu sampai akhirnya berhasil tiba di bibir kawah.  Tidak sampai di bibir kawah saja, saya pun ikut turun mendekat ke danau sulfur saking penasarannya ingin melihat blue fire di jarak paling aman yang terdekat.  Buat saya itu perjalanan tidak gampang, medan yang curam, udara yang sangat dingin, persiapan yang kurang matang.  Tidak pernah menyesal untuk hal itu dan sahabat perjalanan menemukan karakter diri saya yang tersembunyi,“rasa penasaranmu lebih besar daripada kelemahanmu, kamu memang lambat tapi rasa penasaranmu yang besar membuatmu berhasil menyelesaikan Kawah Ijen.”

Setelah dari Kawah Ijen, saya dan sahabat berjalan kaki dari Hutan Raya Dago sampai ke Tebing Keraton, mungkin sekitar 1 – 2 jam perjalanan sekali jalan.  Setelah itu, 3 minggu pertama di Wamena, saya ikut trekking bersama teman – teman kantor ke bukit Veraweh.  Perjalanan sekitar 3 jam sampai di atas karena saya sangat lambat dalam setiap tanjakan dengan tubuh yang masih beradaptasi dengan udara di Wamena, sangat mudah kehabisan tenaga dan nafas.  Sembilan bulan terakhir tiga kali ke Habema dan selalu turun sampai danau, memang perjalanan tidak begitu melelahkan, tapi cukup untuk melatih kaki dan nafas yang manja ini. 

Kaki ini juga pernah bersepeda dari Wamena kota sampai Jembatan Kuning di Sogokmo, perjalanan 4 jam pulang pergi, kehabisan air, kepanasan karena berangkat terlalu siang, bekal makan sudah habis, tapi tetap berhasil kembali ke kota.  Sempat juga mengayuh sepeda sampai ke gunung susu walau pulang berjalan kaki mendorong sepeda karena ban sepeda bocor dan baru menemukan tambal ban di kota. 

Perjalanan ke Hitugi kemarin adalah perjalanan paling jauh sampai saat ini.  Saya sendiri masih belum percaya saya sanggup (mungkin lebih tepatnya ‘disanggupkan’).  Walau di dua tanjakan terakhir ada adik laki – laki yang sangat berbaik hati membawakan ransel saya.  Di tanjakan terakhir tenaga saya hanya sanggup berjalan 10 cm per menit kemudian istirahat.  Perjalanan ini memang cukup lucu, saya dijanjikan perjalanan hanya selama 3 jam trekking, pada kenyataannya saya bertanya 3 kali “berapa lama lagi?” dan orang – orang yang menjawab selalu memberi jawaban yang sama, “2 jam lagi”.  Kalau ditotal berarti sudah 6 jam kami berjalan. 

after reaching the first uphill: still 4 hours more trekking to Hitugi
taken by : Tarsi


Kampung Hitugi, Kabupaten Yahukimo

Perjalanan pulang esok harinya lebih mudah, sedikit tanjakan dan lebih banyak turunan.  Pemandangan pun lebih bisa dinikmati, mungkin karena beban sudah berkurang.  Sebelum sampai di mobil harus menyeberang Kali Yetni, satu tantangan terakhir sebelum semua berakhir.  Kalau tidak ada tangan yang terulur, mungkin saya sudah baku ikut dengan air Kali Yetni. 


Sampai di rumah, mencoba menapak tilas perjalanan lewat gambar – gambar yang berhasil saya ambil dalam perjalanan, saya menyadari satu hal, Pencipta kita adalah Pribadi yang sangat mudah dikagumi.  Coretan tanganNya di dunia ini adalah sebuah keindahan yang membuat saya berpikir, “mau seperti apalagi indahNya Dia jika coretanNya saja seindah ini?”

“Apalah saya ini yang masih sering menyakiti Dia dengan sadar dan sengaja, tapi Dia tetap indah dan mengasihi dengan setia.”


Satu hal terakhir, masih sama seperti tulisan saya dalam perjalanan ke Veraweh :

Trekking itu seperti melakukan perjalanan hidup, yang penting bukan seberapa cepat sampai di tujuan, tapi tetap kembali melangkah dan mendorong diri sendiri untuk tidak menyerah.  Lawan dalam trekking adalah diri sendiri, sama juga seperti hidup.  Teruslah melangkah, jangan berhenti, ambil waktu untuk istirahat itu wajar, tapi mengambil keputusan untuk kembali melangkah adalah keputusan yang layak diambil, karena kita tidak tahu apa yang sedang menunggu kita di depan untuk tetap melangkah melawan kemalasan diri sendiri. 

Segala sesuatu yang indah, layak diperjuangkan.   Lebih baik kita berjuang untuk sesuatu yang indah walau kita belum tahu seberapa indahnya itu, daripada kita berhenti berjuang dan kembali berjalan mundur untuk melihat yang sudah pernah kita lihat. 

Downhill track
Ditambah dengan kata – kata pelengkap hasil perjalanan ke Hitugi :

Kaki ini telah dilatih sebelumnya tanpa saya sadari, berhasil menginjak Hitugi bukan sebuah hasil tanpa proses belaka.  Tanjakan seperti sebuah masalah dalam hidup yang sering membuat kita lemah, merasa tidak mampu, dan malas untuk melewatinya.  Padahal di ujung tanjakan ada sebuah pemandangan indah yang bisa kita nikmati jika kita mau tekun melangkah dan bersandar pada pengertianNya untuk menyadari hal yang tersembunyi itu.  Memang kita juga tidak tahu berapa lama jeda waktu untuk kembali bertemu dengan tanjakan selanjutnya, tapi selama kita menyadari Siapa yang selalu ada di samping kita untuk menemani dan memampukan, bukankah tanjakan menjadi lebih ringan untuk dihadapi?  Dan ketika kita melihat kebelakang, ternyata sudah banyak tanjakan yang sudah kita hadapi, kaki ini sudah terlatih menghadapi tanjakan selanjutnya (karakter kita sudah terlatih untuk menghadapi masalah selanjutnya).  Ketika kita tidak lagi berfokus terhadap 'masalah' yang ada, tapi fokus menyadari 'Siapa' yang ada bersama kita.  Bersyukur untuk proses, bersyukur untuk hasil. 

Bukan saya mampu, tapi saya dimampukan oleh Dia yang selalu setia dan bersedia menjadi kekuatan saya.  Bersyukur untuk Dia yang memampukan kita.

taken by : Tarsi
Cause I love capturing the perfect ones
"Leaving something that is not even worth to step into everything that is more than just worth enough"
song by  : Munthe - Pure